Obat GILA!!!

Posted: March 15, 2013 in #CatatanLiarku

Menurut Crixxxs (2009:11:12 WIB) “Hidup memang terkadang mengecawakan, tetapi tidak selamanya mengecewakan. Hanya saja semua akan lebih berasa dan benar-benar terasa saat kekecewaan dalam hidup itu datang, akan lebih diingat dan tersimpan jelas oleh memori otak kita”.

Walaupun rada alay dan gaya menulisnya ngawur, yang penting blog ane ada isinya…

CekidOttt…!!!
—————————————->
Hasil survey ane ni (#Sok_Skripsi): 20 orang responden ditanya ”lebih banyak mana antara kenikmatan dalam hidupmu dibandingkan dengan masalah yang berat dalam hiddupmu?”

(17 dari 20 orang tadi menjawab “lebih banyak masalah yang beratnya”)

Nah lo, Padahal menurut hasil observasi peneliti ke 20 orang responden tadi, hidup para responden itu fine-fine saja, hidup dengan penuh kelebihan dan kenikmatan duniawi, Minta ini ada, minta itu ada. Dibilang susah yo nggak susah, dibilang gak susah tapi mereka ya sok susah.

“Yo’ opo karepe?? “

(Jawitranslate: Yo’ = Ba | Opo = Gaiamana| Karep = Mau | e = nya | “Jadi Yo’ opo karepe artinya Bagaimana maunya)

Tapi ya gak semua responden tadi hidupnya enak juga sih, sebagian besarnya lah yang hidup enak, soalnya sampelnya diambil dengan metode simply random sampling (Mahasiswa harus ngerti biar kuliahnya gak molor)

Gak puas dengan metode observasi, akhirnya mencoba untuk melakukan wawancara terselubung. (berharap mendapat data yang lebih valid)

Metode Curcol (Curhat Colongan).

Setiap responden rata-rata diberikan pertanyaaan yang sama, hasil pengembangan dari pertanyaan yang diatas.. iya yang itu.. yang diatas tadi lho.. itu..tu yang ada lebih banyak mananya.. Uda liat kan????😀

Lanjut ke jawaban mereka.

  • Yang jawab “lebih banyak nikmatnya” gak tak hiraukan, soalnya masalah yang dicari bukan disitu… Tak cuekin, “kon wis hidup uenak jadi wajar lah kalau jawabannya seperti itu”.
  • Yang jawab “lebih banyak masalah dan gak enaknya”, ini baru yang dicari (gak lulus mata pelajaran syukuran arek iki). Langsung hajar dengan pertanyaan selanjutnya..
  1. 1.   Pertanyaan pertama:

Peneliti       : “Kenapa saudara bisa beranggapan seperti itu, bisa dijelaskan?

Responden         : Curhat panjang lebar,, bla..bla…bla…bla…bla..bla (sampai telinga ini serasa berasap, mata ngantuk, perut mules. tapi yo harus tetap sabarrrr hingga akhirnya sesi curcol berakhir)

Yang tadi pertanyaan pertama sekaligus satu-satunya. Haha

Cuma sebagai pancingan, sebuah trigger biar sesi curhatnya berjalan. Pertanyaannya singkat, tapi jawabannya mesti panjang lebar. Itu yang disebut pertanyaan berbobot kelas berat hasil bertapa.

Kesimpulannya, setelah dirata-rata dan di lakukan triangulasi dari setiap metode dan dianalisis menggunakan SPSS PKM2S (Sok Penulis Skripsi Super Padahal Kuliahnya Molor 2 Semester), intinya ya karena kurangnya pemahaman tentang rasa syukur tadi.

Difikiran mereka, yang namanya nikmat itu sudah diklasifikasikan masing-masing, dan sudah tertanam diotak. Selain dari klasifikasi yang sudah ada berarti dianggap itu bukan bagian yang harus disyukuri… #Sadisss

#Berubah jadi ustadz:

“Pernahkah terbesit difikiran kalian tentang hal-hal yang kalian jalani tiap harinya, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi (alm.mbah_surip_poenya_iki), kegiatan monoton tiap hari yang kalian keluhkan. Dibalik itu semua, justru ada nikmat yang seharusnya disyukuri”.

“Nafasmu itu, kalau seandainya disuruh bayar (sanggup po ora) “

“Penglihatanmu, pendengaran, penciuman kalau seandainya ada biaya sewanya (sanggup mbayar po ora)”

“Lelapnya tidurmu, kalau seandainya menu dari mimpi-mimpimu itu ada biaya pajak di setiap jam tayangnya (sanggup mbayar maneh po ora)”

Buang aer saja itu salah satu nikmat yang diberikan sang penciptamu. Seandainya fantamutaberlubang, gimana tersikasanya dirimu???? (khusus yang ini bukan kata pak ustadz, pak ustadz haram ngomongin fanta)

#Kembali lagi ke kata pak ustadz

“Sekarang sudah saatnya memperluas klasifikasi nikmat yang ada di otak, biar gak stresssss…”

“Ingat, tetap bersyukurrr. Jangan Cuma ngeluh disaat yang gak enaknya datang saja.. “

Hmm,, kata pak ustadz tadi seakan memberikan tonjokan yang membuat ane sadar sesaat, hingga kini dan entah sampai kapan. Semoga saja masa berlakunya panjang (*123*3*2# Bagi pengguna XL untuk mengetahui masa berlaku kartu anda).

Anggapan hidup yang penuh dengan masalah, kebanyakan gak enaknya dari pada enaknya hanyalah sebuah anggapan sesat dan menyesatkan, karena seperti yang dikatakan dipaling atas tadi, hal yang tidak enak itu lebih terekam oleh otak dibandingkan hal-hal yang enak.  (Hasil penelitian Golekdewe.com)

Mangkanya zaman sekarang ini, banyak orang yang susah bersyukur atas apa yang telah dinikmatinya karena ya itu tadi “faktor lupa apa lagi kalau sudah berada dalam kenikmatan yang diklasifikasikan”. Kalau sudah kena masalah dan musibah baru nangis-nangis, ngeluh-ngeluh, bilang hidup ini gak adil lah, apa lah, ini lah, itu lah, le,lah,ah,nulis,ah..

Hmmm,, namanya juga manusia dan itulah MANUSIA..

Ane ya gak munafik kawan, sebenarnya 70% dari kisah responden-responden yang masih tersesat diatas tadi, dulunya juga merupakan kisah ane, kisah sebelum akhirnya kembali kejalan yang benar. Seorang manusia yang lupa bersyukur disaat kenikmatan yang masuk kedalam klasifikasi menghampiri hidup. Dan baru sadar saat kenikmatan klasifikasinya sudah menghilang, Hingga akhirnya cuma bisa mengeluh mengeluh dan mengeluh… gak adil lah, apa lah, ini lah, itu lah, le,lah,ah,nulis,ah..

Baris diatas itu flash back sebelum ane melakukan penelitian kurangkerjaan diatas, sebelum ane kenalan sama hida dan ayahnya” Hahaha. Setelah sadar baru cari responden untuk diteliti dengan niat menyadarkan dan dengan resiko ikut tersesat kembali.

Tujuan penelitian:

Tujuan penelitian kurangkerjaan dan penulisan ngawur ini dilakukan hanya untuk memberikan jalan bagi responden-responden tak terjamah yang masih tersesat lainnya, agar mereka yang drop karena masalah hidup bisa semangat lagi dan terhindar dari STRESSS dengan cara mensyukuri setiap pemberiannya. (Kata STRESSS mengingatkan penulis pada bang haji #RhomaIrama)

Hasil penelitian:

3 responden dari 17 responden yang tersesat Alhamdulillah sudah mulai menampakkan perubahan.. (Minggu lalu ikut shalat jumat coy)😀

Saran:

Sekali lagi mari perbanyak bersyukur kawan, mari kita perluas klasifikasi hal-hal yang harus disyukuri dalam hidup ini.

Minimal lah mengucapkan ALHAMDULILLAH…tapi  jangan ditambahi sesuatu ya.!!! (Karena dapat mengingatkan penulis pada #___________)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s